Sandang, Pangan & User Engagement
Engagement telah berubah menjadi bentuk baru dari "mata uang" sosial. Semakin tinggi engagement yang didapatkan, semakin besar pula rasa percaya diri seseorang, atau setidaknya, itulah yang mereka rasakan. Sayangnya, angka-angka ini tidak selalu mencerminkan realitas. Banyak orang merasa perlu untuk terus menampilkan sisi terbaik dari diri mereka, bahkan jika itu berarti menutupi kelemahan atau memalsukan kebahagiaan mereka. Akibatnya, muncul tekanan sosial yang besar untuk selalu terlihat "sempurna".
Keresahan ini tidak hanya dialami oleh individu, tetapi juga oleh komunitas dan organisasi. Perusahaan, influencer, hingga institusi pendidikan berlomba-lomba menarik perhatian. Kampanye, konten, atau acara dirancang sedemikian rupa agar "viral" dan mencapai engagement yang diinginkan. Namun, di balik strategi itu, sering kali melupakan esensi atau nilai yang ingin disampaikan. Hasilnya, hubungan yang terjalin dengan audiens menjadi dangkal dan tidak berkelanjutan.
Dalam skala individu, mengejar engagement sering kali berujung pada ketergantungan psikologis. Rasa senang saat menerima banyak likes dan rasa kecewa saat tidak ada yang merespons, menjadi siklus emosional yang sulit dihindari. Hal ini membuat banyak orang mempertanyakan, apakah kebahagiaan mereka benar-benar autentik, atau hanya dipengaruhi oleh pengakuan orang lain? Rasa cemas akan "tidak terlihat" di dunia maya kini menjadi realita yang harus dihadapi oleh generasi muda.
Grafik di atas menunjukkan sejauh mana gap yang tercipta antara pengguna internet dan pengguna media sosial, setidaknya bisa diambil kesimpulan bahwa setiap tahunnya pengguna sosial media meningkat cukup signifikan seiring sejalan dengan jumlah pengguna internet, hanya saja gap yang dihasilkan semakin kecil, hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang sadar pentingnya ber-media sosial, entah sebagai subjek atau objek (penikmat konten).
Tak dapat dipungkiri, teknologi memang telah membawa berbagai manfaat, termasuk kemampuan untuk terkoneksi dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Namun, ketika interaksi ini menjadi lebih berfokus pada angka ketimbang kualitas, esensi dari hubungan manusia mulai tergerus. Ketika engagement menjadi tujuan utama, sering kali hal itu mengorbankan kejujuran dan otentisitas.
Menyadari bahwa engagement bukanlah segalanya menjadi langkah awal untuk mengurangi keresahan ini. Manusia perlu kembali mengingat bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh algoritma atau jumlah pengikut di media sosial. Ada banyak cara lain untuk merasa berarti, seperti berbagi dengan komunitas secara langsung, mendalami hobi, atau membangun hubungan yang lebih mendalam dengan orang-orang terdekat.
Pada akhirnya, sandang, pangan, dan papan tetaplah kebutuhan primer yang tak tergantikan. User engagement, meski penting dalam konteks tertentu, seharusnya tidak menjadi penentu kebahagiaan atau keberhargaan seseorang. Dunia digital adalah alat, bukan tujuan. Dengan menyikapi fenomena ini secara bijak, kita bisa menciptakan kehidupan yang lebih seimbang, di mana validasi sejati datang dari dalam diri, bukan dari layar gadget.