A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Undefined array key 1

Filename: models/Hitung.php

Line Number: 82

Backtrace:

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/application/models/Hitung.php
Line: 82
Function: _error_handler

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/application/models/Hitung.php
Line: 104
Function: getBrowser

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/application/views/frontend/header.php
Line: 49
Function: cari

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 357
Function: include

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 305
Function: _ci_load

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/application/controllers/Home.php
Line: 255
Function: view

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/index.php
Line: 290
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Undefined array key 1

Filename: models/Hitung.php

Line Number: 82

Backtrace:

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/application/models/Hitung.php
Line: 82
Function: _error_handler

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/application/models/Hitung.php
Line: 105
Function: getBrowser

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/application/views/frontend/header.php
Line: 49
Function: cari

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 357
Function: include

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 305
Function: _ci_load

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/application/controllers/Home.php
Line: 255
Function: view

File: /www/wwwroot/si.unh.ac.id/index.php
Line: 290
Function: require_once

Blog Details

Sandang, Pangan & User Engagement

Sandang, Pangan & User Engagement

Di era digital ini, kebutuhan manusia seakan bertambah. Tidak lagi sekadar sandang, pangan, dan papan, namun juga sesuatu yang tidak kasat mata: user engagement. Keberadaan seseorang, yang dulunya diukur melalui interaksi langsung dan kontribusi nyata, kini sering kali dinilai melalui jumlah likes, comments, atau shares yang mereka dapatkan di media sosial. Fenomena ini menciptakan keresahan baru dalam kehidupan modern, karena validasi sosial semakin bergantung pada angka-angka digital.

Engagement telah berubah menjadi bentuk baru dari "mata uang" sosial. Semakin tinggi engagement yang didapatkan, semakin besar pula rasa percaya diri seseorang, atau setidaknya, itulah yang mereka rasakan. Sayangnya, angka-angka ini tidak selalu mencerminkan realitas. Banyak orang merasa perlu untuk terus menampilkan sisi terbaik dari diri mereka, bahkan jika itu berarti menutupi kelemahan atau memalsukan kebahagiaan mereka. Akibatnya, muncul tekanan sosial yang besar untuk selalu terlihat "sempurna".

Keresahan ini tidak hanya dialami oleh individu, tetapi juga oleh komunitas dan organisasi. Perusahaan, influencer, hingga institusi pendidikan berlomba-lomba menarik perhatian. Kampanye, konten, atau acara dirancang sedemikian rupa agar "viral" dan mencapai engagement yang diinginkan. Namun, di balik strategi itu, sering kali melupakan esensi atau nilai yang ingin disampaikan. Hasilnya, hubungan yang terjalin dengan audiens menjadi dangkal dan tidak berkelanjutan.

Dalam skala individu, mengejar engagement sering kali berujung pada ketergantungan psikologis. Rasa senang saat menerima banyak likes dan rasa kecewa saat tidak ada yang merespons, menjadi siklus emosional yang sulit dihindari. Hal ini membuat banyak orang mempertanyakan, apakah kebahagiaan mereka benar-benar autentik, atau hanya dipengaruhi oleh pengakuan orang lain? Rasa cemas akan "tidak terlihat" di dunia maya kini menjadi realita yang harus dihadapi oleh generasi muda.


Grafik di atas menunjukkan sejauh mana gap yang tercipta antara pengguna internet dan pengguna media sosial, setidaknya bisa diambil kesimpulan bahwa setiap tahunnya pengguna sosial media meningkat cukup signifikan seiring sejalan dengan jumlah pengguna internet, hanya saja gap yang dihasilkan semakin kecil, hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang sadar pentingnya ber-media sosial, entah sebagai subjek atau objek (penikmat konten). 

Tak dapat dipungkiri, teknologi memang telah membawa berbagai manfaat, termasuk kemampuan untuk terkoneksi dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Namun, ketika interaksi ini menjadi lebih berfokus pada angka ketimbang kualitas, esensi dari hubungan manusia mulai tergerus. Ketika engagement menjadi tujuan utama, sering kali hal itu mengorbankan kejujuran dan otentisitas.

Menyadari bahwa engagement bukanlah segalanya menjadi langkah awal untuk mengurangi keresahan ini. Manusia perlu kembali mengingat bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh algoritma atau jumlah pengikut di media sosial. Ada banyak cara lain untuk merasa berarti, seperti berbagi dengan komunitas secara langsung, mendalami hobi, atau membangun hubungan yang lebih mendalam dengan orang-orang terdekat.


Pada akhirnya, sandang, pangan, dan papan tetaplah kebutuhan primer yang tak tergantikan. User engagement, meski penting dalam konteks tertentu, seharusnya tidak menjadi penentu kebahagiaan atau keberhargaan seseorang. Dunia digital adalah alat, bukan tujuan. Dengan menyikapi fenomena ini secara bijak, kita bisa menciptakan kehidupan yang lebih seimbang, di mana validasi sejati datang dari dalam diri, bukan dari layar gadget.

Lailyn Puad, S.Kom., M.Kom
Dosen dan Software Developer yang masih belajar journaling. Profil lengkap bisa cek ke https://exmud.my.id